Translate

Sabtu, Juni 18, 2011

#IndonesiaJujur: Jangan Gunakan Mata Uang Lainnya

Entri ini adalah dukunganku untuk gerakan #IndonesiaJujur

Hilangnya Mata Uang Kejujuran
Seperti de javu. Membaca kisah Ibu Siami yang diusir dari kampungnya untuk sebuah harga kejujuran, mengingatkan saya pada entri (post) saya tiga tahun lalu. Dengan begitu sombongnya saya berkhayal tentang bobroknya pendidikan kita, hingga akhirnya hal tersebut menjelma menjadi kenyataan--menjadi momok yang berwujud. Sangat sekali, kesombongan itu saya sesali. Seakan-akan saya pernah menulis untuk berdo'a. Orang-orang bilang "ati-ati, ya! omongan itu do'a, tau!". Tapi, sungguh, demi Dia, saya tidak ada niatan begitu, kok..

Sikap-sikap remeh yang saya sebutkan dalam entri tersebut, kekurangan di sana-sini dalam pendidikan (bahkan seperti yang pernah [atau bahkan seringkali] saya rasakan), menelurkan generasi yang tidak sempurna. Maka dengan tidak sejalannya hati dengan kepala, hasilnya, ya mereka yang tidak ragu bersikap curang. Bagaimana pun, kejujuran juga merupakan produk pendidikan--bukan hanya pendidikan harus diisi dengan kejujuran.

Waktu kecil, saya senang membaca Buku Pintar. Di setiap halaman di bagian catatan kaki, ada beberapa kata mutiara yang memutiarakan hati siapapun yang membaca. Satu yang saya ingat,
"kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja"
Namun setelah tragedi Ibu Siami mencuat, saya jadi sangsi. Apakah mata uang tersebut tidak akan berlaku lagi? Jika ia, maka, mata uang apa yang lebih baik?


Mengembalikan Mata Uang Kejujuran

Sebagai manusia, jika mengingat masalah meredupnya kejujuran, saya jatuh dan merasa kecewa. Kecewa dengan masyarakat--meskipun saya pun merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri. Apakah mata uang tersebut tidak akan berlaku lagi? Jika ia, maka, mata uang apa yang lebih baik? Namun sekali lagi saya bertanya pada hati nurani. Oh, tidak bisa! Kejujuran adalah harga mati--kecuali untuk tiga perkara[1]. Tentu saja kejujuran akan tetap menjadi mata uang yang berlaku di mana-mana. Bayangkan saja jika tidak ada lagi kejujuran di muka bumi. Semua orang munafik, semuanya bertemu di neraka wel. Bosan kan? Maka dari itu, hanya mata uang ini yang bisa dipakai.

Kita kembalikan hati nurani kita untuk saling mengajari tentang kejujuran. Kita perbaiki pendidikan. Kita buat kalimat kebalikan dari apa yang pernah saya ucapkan.

Kita harus percaya terhadap pendidikan, kita harus menguasai konsep keilmuan, kita mampu berpikir yang luar biasa, kita tidak lekas merasa puas, kita disiplin, kita menghargai waktu, dan kita menanamkan belajar sebagai sebuah kenikmatan.
Hanya dengan menghidupkan pendidikan kembali, kita juga bisa menyalakan hati. Dengan demikian, sedikit demi sedikit, proses pendidikan dan kebutuhan kita untuk berkembang dapat terpenuhi. Jangan diam. Tidakkah kita merasa tumpul otak dan tumpul hati selama ini?

Hal Kecil Lainnya
Oia, ada sebuah gerakan anti-nyontek yang gencar beberapa waktu lalu di musim Ujian Nasional, namanya Mandiri-Terpercaya Gerakan Anti Nyontek Pelajar Nasional ~ "MANTEP GAN". Gerakan berpita biru saat ujian ini diinisiasi oleh anak SMA dengan visi yang sangat jelas: anti-nyontek. See? Sangat besar kepedulian kita. 

Dengan begitu, saya tidak jadi untuk tidak sangsi, ah. Ikikik..

Terima kasih Ibu Siami dan Al karena atas keberanian Anda, hati kami diuji. Walaupun kejujuran terlihat menjadi begitu menyulitkan, namun, setiap manusia sesungguhnya memiliki hati nurani yang benar-benar tahu bahwa sikap yang Anda ambil adalah sikap yang benar. Karena kami semua manusia. Mungkin keadaan saja yang membuat banyak hal terlihat lebih buruk.

Beat UN!


[1]
Orang yang berbicara dengan maskud hendak mendamaikan; orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan; suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya

Pinjem gambar Amanda Ibnu Rusyd :)

(。◕‿◕。) @nengratna